Rabu, 17 Juni 2015

Sikap Dalam Belajar Kini Dan Nanti

Sikap Dalam Belajar Kini Dan Nanti

Kata belajar bukan sebuah kata sepele. Kata ini merupakan sebuah kata universal yang mengandung unsur kearifan luhur. Kata belajar tentu umumnya di kenakan pada pelajar, tetapi sejatinya mutlak pula bagi pendidik. Guru tentunya perlu belajar sebelum ia membelajarkannya keilmuannya. Guru Deni peranan sebagai insan yang meneladankan sikp belajat sepanjng hayat.
Lebih dari itu , sesungguhnya kata belajar alami bagi semua manusia,entah tua atupun muda. Beberapa futurolog atau pakar tentang masa depan menyatakan bahwa belajar adalah pekerjaan utama manusia dimasa sekarang dan mendatang. Tidakkah kita sudah rasakan sekarang di dunia kerja?
Selain belajar sebagai kegiatan utama dalam keilmuan, belajar juga menyiratkan sikap yang manusiawi. Kata belajar senantiasa mengimbas suatu suasana kebersahajaan bagi subyeknya ataupun pelakunya.
Seseorang yang belajar artinya mengakui bahwa dirinya belum tahu, mengakui keterbatasan pemahamannya, dan mengakui bahwa dirinya masih belum mencapai kebenaran mutlak. Kebersahajaan ini juga sesungguhnya juga penting juga dalam budaya ilmiah.
Jika persekolahan dapat mengembalikan belajar sebagai jiwa kegiatannya, budaya kebersahajaan dapat diharapkan tumbuh di kelas, sekolah, dan akhirnya menyebar ke masyarakat luas.
Sekolah bukan saja sebagai tempat penyebaran pengetahuan ilmiah, tetapi lebih dari itu. Sekolah haruslah menjadi sumber inspirasi pengembangan budaya masyarakat sekitarnya. Iklim kebersahajaan yang berkembang di masyarakat akan meningkatkan harmoni sosial sejati berdasarkan intelektualitas, bukan berlandaskan materi.
Budaya kebersahajaan ini secara alami menumbuhkan sikap mau mendengar pendapat orang lain karena ingin belajar dari orang lain. Belajar dapat dari siapa saja, dimana saja, dan kapan saja.Setiap orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah.
Sebaliknya, perasaan takabur, perasaan akan tahu segalanya, dan perasaan paling benar akan mengimbas sikap mudah menyesatkan orang lain, menganggap orang lain salah jika tidak sama dengan pendapatnya. Perasaan takabur ini memiliki saudara kembar bernama kenaifan, yakni melihat dunia hanya hitam-putih. Jika tidak hitam, pasti putih. Ini sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam perwatan sang Negara Kesatuan Republik Indonesia.






Sabtu, 04 April 2015

UT Menjalin Kerjasama Dengan Kemlu RI



            Sumbangsih Universitas Terbuka (UT) dalamn dunia pendidikan terus ditingkatkan, telah banyak peran UT sebagai institusi pendidikan dalam membuka akses layanan pendidikan tinggi kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia baik yang berdomisili di dalam maupun di luar negeri.
            Upaya dari peran itu dilakukan melalui penjalinan kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan, baik dalam bentuk penyediaan beasiswa, edukasi publik, penyiapan calon mahasiswa, maupun dukungan layanan belajar di UT.
            Wujud dari peran UT tersebut nampak pada Senin, 30 Maret 2015 di Universitas Terbuka Convention Cener (UTCC) dengan dilaksanakannya Penandatangan Nota Kesepahaman yang dilakukan oleh Rektor UT, Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed. Ph.D. dan Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri republic Indonesia (Kemlu RI), Duta Besar Esti Andayani yang disaksikan oleh Sekretaris Jenderal Tenaga Kerja Kementerian Tenaga Kerja dihadapan para calon wisudawan yang hadir pada acara Seminar Wisuda UT Periode I Tahun 2015.
            Kerjasama yang dilakukan UT dengan Kemlu RI ini merupakan lanjutan dari kerjasama sebelumnya dalam memberikan akses pendidikan bagi Warga Negara Indonesia (WNI) luar negeri. Hal ini merupakan salah satu cerminan kerja keras UT sebagai institusi yang menjalankan perannya dalam membuka akses layanan pendidikan tinggi kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia yang bekerja atau berdomisili di luar negeri yang ingin menempuh layanan pendidikan tinggi.
            Rektor UT, Prof Ir. Tian belawati, M. Ed., Ph.D  dalam sambutannya memaparkan, penandatanganan Nota Kesepahaman adalah perpanjangan kerjasama yang telah terjalin selama ini agar dapat lebih memantapkan pelayanan pendidikan bagi seluruh WNI terutama bagi mereka yang berdomisili atau sedang di luar negeri dapat tetap menambah pengetahuan dan meningkatkan kualifikasi serta kompetensi melalui sistem pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh, yaitu melalui UT dimanapun mereka berada”.
            Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI, Duta Besar Esti Andayani dalam sambutannya menuturkan “Selama 3(tiga) tahun terakhir, UT tidak pernah lelah menghasilkan inovasi penting bagi kemajuan dunia pendidikan Indonesia. Pengembangan layanan UT ke lebih dari 20 negara serta pembukaan program S2 ASEAN Studies merupakan beberapa terobosan yang patut kita apresiasi”. Kementrian Luar Negeri pun akan terus mendukung upaya UT dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

source : www.ut.ac.id